BELUM ADA TEKNOLOGI TAMBANG EMAS YG AMAN


Bahayanya Limbah Tailing Yang Dilahirkan Dari Perusahaan Tambang
Oleh: Amstrong Sembiring | 17 July 2010 | 20:47 WIB

Sebagian isi Artikel ini adalah merupakan makalah pribadi dan sudah pernah dipublikasikan, serta dibahas di Fakultas Hukum Pascasarjana Universitas Indonesia (UI) dan semoga bisa bermanfaat.

PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) adalah perusahaan kontrak karya pertambangan emas yang berlokasi di Kabupaten Minahasa dan Kabupaten Bolaang Mongodow, Propinsi Sulawesi Utara. Kontrak Karya (KK) antara PT. NMR dengan Pemerintah Republik Indonesia ditandatangani pada tanggal 2 Desember 1986. Dokumen AMDAL PT. NMR disetujui pada tanggal 17 Nopember 1994. PT. NMR telah mulai berproduksi sejak mulai bulan Maret 1996. Bagian penting dari suatu proses pengelolaan emas adalah dimana tailing akan ditempatkan sesudah proses produksi. PT. Newmont Minahasa Raya merupakan perusahaan tambang yang memanfaatkan dasar laut sebagai media untuk menempatkan tailing yang dihasilkan dari proses penambangan. Dalam dokumen AMDAL disebutkan bahwa tailing hasil pengolahan bijih emas akan ditemptkan dibawah laut melalui pipa, dengan ujung pipa pada kedalaman 82 meter di bawah permukaan laut pada jarak sekitar 800 meter dari pantai. Sistem penempatan tailing dibawah ini disebut Submarine Tailing Placement (STP). Pemilihan sistem ini didasarkan pada pertimbangan kondisi lingkungan disekitar pertambangan.

Dampak utama yang penting dari sistem ini adalah pengendapan dan penimbunan yang timbul akibat penempatan tailing didasar laut. Submarine Tailing Placement (STP) atau Submarine Tailing Disposel (STD) atau sistem pembuangan limbah tailing ke dasar laut, pertama-tama digunakan pada tahun 1971 oleh perusahaan tambang emas “Island Copper Mine” (ICM), Canada, dimana disitulah merupakan basis dari STD didesain dan dikembangkan untuk kegiatan pertambangan emas di daerah pesisir (Ellis, et al.1995a). Sampai saat ini, sistem tersebut digunakan oleh pertambangan lainnya yang mempunyai sistem yang sama dengan milik ICM, diantaranya adalah PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR), Manado dan PT. Newmont Nusa Tenggara (PT. NNT) di Indonesia. Namun, masih terdapat pro dan kontra seputar penggunaan STD/STP di beberapa negara. Hal ini terjadi manakala sistem tersebut masih menjadi perdebatan apakah aman terhadap lingkungan, dan beberapa isu-isu lingkungan lainnya berkembang di negara yang menggunakansistem tersebut.

Penelitian limbah tailing sebelumnya menyebutkan bahwa komposisi bahan kimia tailing pada tingkat tertentu dapat menyebabkan pencemaran perairan yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat di sekitar lokasi pembuangan dan juga dapat menyebabkan rusaknya sumberdaya ikan di sekitar lokasi pembuangan tailing pada dasarnya ada beberapa dampak penting yang secara konsisten terjadi di daerah pertambangan yang menggunakan STD/STP sekalipun pengontrolan dilakukan salah satu dampak tersebut adalah penutupan daerah dasar perairan dan bioakumulasi logam (Ellis,1988) dampak tersebut meliputi aspek fisik, biologi dan kimia. Terdapat perbedaan pendapat yang berkembang dengan model pengelolaan limbah taling dengan menggunakan STD/STP, yaitu kelompok yang menyatakan bahwa limbah tailing tidak menyebabkan degradasi sumberdaya dan lingkungan biofisik perairan teluk buyat. Pendapat ini berdasarkan kepada alasan teknis bahwa limbah tailing telah di tetapkan di perairan dengan kedalaman dibawah lapisan termoklin. Lapisan termoklin ini sangat stabil dan dapat mencegah (menghalangi) naiknya masa air dasar yang telah tersaluri tailing ke permukaan. Pendapat yang lain menyatakan bahwa perairan di sekitar teluk buyat telah menurunkan kualitas perairannya secara signifikan. Hal ini menurut mereka di buktikan dengan tingkat kekeruhan yang tinggi dan menurunnya sumberdaya perikanan. Berdasarkan surat keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala Bapedal No. B1456/BAPEDAL/07/2000 tentang pembuangan limbah tailing ke teluk buyat, PT NMR di haruskan untuk memenuhi baku mutu yang telah di tetapkan dan melakukan studi ecologikal risk assessment (ERA). Studi ERA tersebut telah di laksanakan dalam waktu 6 bulan sesuai dengan batas waktu yang di berikan, dan telah di sampaikan kepada Menteri Negara Lingkungan Hidup/Kepala BAPEDAL pada tanggal 11 Januari 2001. di dalam salah satu tugas KLH adalah melakukan pemantauan kualitas lingkungan, untuk memenuhi banyaknya pertanyaan tentangkualitas lingkungan di lokasi kegiatan pertambangan. Untuk memenuhi tugas tersebut maka dilakukan pemantauan kualitas lingkungan di daerh pertambangan PT. Newmont Minahasa Raya, khususnya di teluk buyat sebagai lokasi tempat penimbunan tailing .

Permasalahan

Sistem Penempatan Limbah Bawah Laut/Tailing. Dimana PT. Newmont Minahasa Raya (PT. NMR) adalah perusahaan tambang emas yang menerapkan Sistem Penempatan Tailing Bawah Laut/ Submerine Tailing Placement (STP) terhadap hasil akhir proses pengolahnn emas yang dilakukan. Tailing PT. NMR berupa Lumpur Kental (slurry) yang terdiri atas air dan partikel batuan yang sangat halus (>70 mikron) yang dihasilkan dari proses penghancuran, penggilingan dan pemanggangan terhadap batuan-batuan yang mengandung emas. Perbandingan Antara padatan dan cairan dari tailing ini adalah kurang lebih 40% padatan dan 60% cairan. Penempatan tailing dalam bentuk Lumpur Kental (slurry) disalurkan lewat pipa didasar laut sampai kedalaman 82 meter dan dengan perbedaan densitas antara tailing dan air Iaut membuat tailing mengendap ke dasar Iaut .

Limbah Tailing

Tailing adalah satu jenis limbah yang dihasilkan oleh kegiatan tambang. Selain tailing kegiatan tambang juga menghasilkan limbah lain seperti, limbah batuan keras (overburden), limbah minyak pelumas, limbah kemasan bahan kimia, dan limbah domestik. Limbah-limbah itu baru satu bagian dari permasalahan pertambangan yang ada .

Tailing, dalam dunia pertambangan selalu menjadi masalah serius. Limbah yang menyerupai lumpur kental, pekat, asam dan mengandung logam-logam berat itu berbahaya bagi keselamatan makhluk hidup. Apalagi jumlah tailing yang dibuang oleh setiap perusahaan tambang mencapai ribuan ton perhari. Bahkan di beberapa tempat penambangan seperti PT Freeport Indonesia dan PT. Newmont Nusa Tenggara jumlah tailing yang dibuang mencapai ratusan ribu ton setiap hari .

Limbah tailing berasal dari batu-batuan dalam tanah yang telah dihancurkan hingga menyerupai bubur kental oleh pabrik pemisah mineral dari bebatuan. Proses itu dikenal dengan sebutan proses penggerusan. Batuan yang mengandung mineral seperti emas, perak, tembaga dan lainnya, diangkut dari lokasi galian menuju tempat pengolahan yang disebut processing plant. Di tempat itu proses penggerusan dilakukan. Setelah bebatuan hancur menyerupai bubur biasanya dimasukkan bahan kimia tertentu seperti sianida atau merkuri, agar mineral yang dicari mudah terpisah. Mineral yang berhasil diperoleh biasanya berkisar antara 2% sampai 5% dari total batuan yang dihancurkan. Sisanya sekitar 95% sampai 98% menjadi tailing, dan dibuang ke tempat pembuangan.

Dalam kegiatan pertambangan skala besar, pelaku tambang selalu mengincar bahan tambang yang tersimpan jauh di dalam tanah, karena jumlahnya lebih banyak dan memiliki kualitas lebih baik. Untuk mencapai wilayah konsentrasi mineral di dalam tanah, perusahaan tambang melakukan penggalian dimulai dengan mengupas tanah bagian atas yang disebut tanah pucuk (Top Soil). Top Soil kemudian disimpan di suatu tempat agar bisa digunakan lagi untuk penghijauan paska penambangan. Setelah pengupasan tanah pucuk, penggalian batuan tak bernilai dilakukan agar mudah mencapai konsentrasi mineral. Karena tidak memiliki nilai, batu-batu itu dibuang sebagai limbah, dan disebut limbah batuan keras (overburden). Tahapan selanjutnya adalah menggali batuan yang mengandung mineral tertentu, untuk selanjutnya di bawah kepro cessing plant dan diolah. Pada saat pemrosesan inilah tailing dilakukan.

Sebagai limbah sisa batu-batuan dalam tanah, tailing pasti memiliki kandungan logam lain ketika dibuang. Tailing hasil penambangan biasanya mengandung mineral inert (tidak aktif). Mineral itu antara lain : kwarsa, klasitdan berbagai jenis aluminosilikat. Walau demikian tidak berarti tailing yang dibuang tidak berbahaya. Sebab tailing penambangan emas mengandung salah satu atau lebih bahan berbahaya beracun : seperti : Arsen (As), Kadmium (Cd), Timbal (Pb), Merkui Sianida (Cn) dan lainnya. Logam-logam yang berada dalam tailing sebagian adalah logam berat yang masuk dalam kategori limbah bahan berbahaya dan beracun (B3). Pada awalnya logam itu tidak berbahaya jika terpendam dalam perut bumi. Tapi ketika ada kegiatan tambang, logam-logam itu ikut terangkat bersama batu-batuan yang digali, termasuk batuan yang digerus dalam processing plant. Logam-logam itu berubah menjadi ancaman ketika terurai di alam bersama tailing yang dibuang.

Tabel berikut adalah contoh kandungan logam berat yang terdapat dalam tailing PT. Newmont Nusa Tenggara. Data diambil dari dokumen Amdal perusahaan. Secara fisik komposisi tailing terdiri dari 50% fraksi pasir halus dengan diameter 0,075 -0,4 mm dan sisanya berupa fraksi lempung dengan diameter 0,075 mm. Keadaannya semakin menakutkan karena limbah tailing yang dibuang oleh satu aktivitas pertambangan berjumlah jutaan ton .

Operasi tambang PT Freeport Indonesia di Papua Barat sebagai contoh. Masalah serius yang dihadapi perusahaan ‘raksasa’ asal Amerika itu salah satunya adalah tailing. Setiap hari perusahaan asing pertama di masa kekuasaan Soeharto ini, membuang limbah tailingnya ke sungai. Bagi penduduk lokal sungai Ajkwa tempat limbah Freeport dibuang adalah ‘urat nadi’ kehidupan mereka. Kini Ajkwa tidak dapat digunakan karena tercemar limbah tailing. Jutaan tailing sudah dibuang di sungai itu. Dari 7.275 ton/hari di tahun 1973, meningkat menjadi 31.040ton/hari di tahun 1988 dan saat ini menjadi 223.100 ton/hari. Secara kasat mata, tailing Freeport telah mematikan ratusan hektar hutan alam di wilayah pengendapan tailing. Kebun-kebun sagu Komoro di Koperaporka pun ikut mati terendam rembesan tailing moluska yang menjadi sumber penghasilan ibu-ibu nelayan suku Komoro kini isinya berubah warna dan rasa . Penyebabnya, diduga kerasa tailing Freeport yang terdisposisi ke laut. Bahkan hasil penel Lembaga llmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang melaksanakan survei di laut Arafuru menemukan sedimentasi dalam jumlah besar yang tersebar dan tertumpuk pada sebuah cekungan diperairan itu. Artinya : tailing Freeport telah menyebar hingga ke laut Arafuru. Dapat dibayangkan apa yang bakal terjadi di masa akhir operasi Freeport.

Pembuangan Tailing

Membuang tailing ke sungai seperti dilakukan Freeport adalah satu cara pembuangan tailing yang dikenal dunia pertambangan. Cara lain adalah pembuatan bendungan atau kolam penampung yang biasa disebut Tailings dam. Cara ini banyak dilakukan di Indonesia. Tetapi, masalahnya tetap sama. Lingkungan hidup tercemar oleh tailing. Air dari endapan tailing yang tertampung tailing dam pada akhirnya mengalir ke sungai-sungai di sekitarnya. Logam berat dan senyawa kimia pun ikut masuk ke lingkungan. Penduduk desa Olung Muro, Olung Hanangan, Dirung Li dan Datah Kuto punya cerita tentang tailings dam. Pendiu pedalaman Kalimantan Tengah itu, mengeluh karena ikan dan air dalam jumlah banyak mati terapung di sungai Mure Manawing tahun 1994. Mereka menduga sungai tercemar oleh limbah dari kolam tailing PT. Indo Muro Kencana (IMK). Mereka yakin peristiwa berlangsung saat IMK melakukan uji coba operasi tambang. Tuduhan masyarakat dibantah perusahaan. Pihak IMK menyatakan belum melakukan operasi saat itu. Tapi masyarakat tetap yakin sungai tercemar oleh limbah perusahaan. Akhirnya kambing hitam langsung ditemukan : tambang rakyat dituduh sebagai penyebab. Penambang rakyat menolak tuduhan itu. “Dari dulu kami menambang disini, dan tidak ada ikan mati” kata Djanan Tadji penduduk Desa Olung Muro .

Orang Kelian di pedalaman Kalimantan Timur memiliki lain tentang kolam tailing. Sebagai penambang tradisional yang tergusur, mereka memiliki naluri kuat tentang emas. Tak peduli bahaya, pencarian emas terus dilakukan. Usaha mereka semakin terdesak, karena lokasi potensial telah dikuasai PT. Kelian Equatorial Mining (KEM). Dalam keterpurukan ekonomi keluarga yang serius, harapan jatuh pada tailings dam. Di kolam tailing bercampur sianida milik KEM mereka letakkan mimpi. “Suatu saat bila perusahaan berhenti operasi kami akan menambang di kolam itu”, kata penduduk desa. Niat penduduk itu terbaca oleh perusahaan. KEM mengantisipasi dengan mengundang beberapa penduduk untuk mendulang di kolam tailing. Tawaran itu disambut gembira oleh beberapa utusan. Hasilnya, mereka menderita gatal-gatal pada bagian tubuh yang terendam air..

Taktik KEM cukup ‘baik’ bag! kepentingan pasca tambang mereka. Cara itu cukup jitu menghacurkan mimpi penduduk. Sayang tidak dibarengi perhitungan matang tentang keselamatan utusan pendulang. Tiada penjelasan bahaya sianida dalam tailing sebelum mereka mendulang. Penduduk desa juga tidak mendapat penjelasan tentang bahaya tailing dam. Padahal perusahaan akan tutup tahun 2003, dan meninggalkan tailing dam menjadi hamparan pasir beracun, tanpa bisa direklamasi.

IMK, KEM, juga Freeport selalu membantah bahaya tailing mereka bagi keselamatan dan kelestarian lingkungan. Banyak data disodorkan untuk counter gugatan masyarakat lokal dan atau aktifis lingkungan hidup. Bantah membantah seperti telah jadi standar baku perusahaan pertambangan. Akibatnya substansi permasalahaan terabaikan, dan ancaman terus berjalan. Bahkan untuk mendukung basis argumentasi, perusahaan tak segan-segan ‘mempekerjakan’ konsultan ternama agar mendapatkan legitimasi. Publik pun terkecoh karenanya. Seolah pendapat akademisi adalah kebenaran, sehingga dapat mengalahkan pendapat orang kampung yang menderita dari hari ke hari. Sungguh suatu kondisi yang tidak adil.

Cara membuang tailing ke sungai mulai kehilangan keabsahan (legitimasi). Dengan mudah dapat dilihat kerusakannya, walau tanpa menggunakan alat canggih. Tidak hanya bantaran sungai dan ekosistemnya yang dihancurkan tapi juga budaya dan nadi kehidupan penduduk lokal. Kini banyak perusahaan tambang meninggalkan cara itu. Karena resiko kompleksitas masalahnya terlalu tinggi. Selain itu, peraturan negara juga mulai ketat melarang pembuangan tailing ke sungai. Belum lagi pressure (tekanan) penduduk lokal, aktivis lingkungan dan media massa ikut jadi batu sandungan bagi perusahaan tambang .

Penggunaan dam sebagai tempat pembuangan limbah tailing juga mulai ditinggalkan. Selain menelan ongkos yang besar, penggunaan tailing dam berimplikasi pada mudahnya pemantauan (jika dilakukan secara sungguh-sungguh) oleh petugas negara yang berwenang. Daerah pertambangan yang secara geologi memiliki kerumitan tinggi, ikut mempersulit pembangunan tailings dam. Belum lagi pertimbangan jalur rawan gempa (jalur patahan dan lipatan), menjadikan pembangunan dam sebagai pilihan tidak populer. Dampak sosial menjadi satu perhitungan sendiri dalam konstruksi tailings dam. Perusahaan akan mengeluarkan biaya tinggi bagi pembebasan tanah-tanah penduduk di lokasi bendungan. Biaya itu pada masa kejayaan orde baru tidak dikeluarkan maksimal, karena perusahaan dapat dukungan aparat represif negara. Kini cara demikian tidak dapat dilakukan, karena mendapat perlawanan penduduk lokal. Akibatnya ongkos pembebasan tanah ikut naik.

Dalam kondisi demikian, laut yang menjadi pilihan. Pandangan publik mulai diarahkan untuk mendukung pembuangan tailing kelaut. Argumentasi-argumentasi dasar mulai disusun, salah satunya adalah anggapan bahwa tailing aman di buang ke laut. Studi mendukung cara pembuangan ke laut terus dilakukan, hingga legitimasi akademis. Propaganda seperti itu mirip dengan cara ketika pertama kali penggunaan bendungan untuk tailing di-agungkan. Celakanya ada saja akademisi yang entah karena kepentingan ekonomi atau keyakinan keilmuannya, berpihak pada skenario ini.

Pertanyaan besar pun muncul. Amankah tailing dibuang di laut. Fakta dan peristiwa menunjuk sebaliknya. Apa lagi selama laut ini telah menanggung beban akhir dari aliran sungai yang tercemar berbagai aktivitas di darat, termasuk pertambangan.

3. Teknologi STD

Pembuangan tailing ke laut kini semakin digemari. Penelitian, kampanye dan lobby dilakukan pendukung STD agar publik memberi sokongan terhadap sistem itu. Penghalusan bahasa pun dilakukan. Semula pembuangan tailing ke laut dikenal dengan sebutan Submarine Tailing Disposal (STD). Jika diterjemahkan bebas menjadi pembuangan tailing bawah laut. Istilah STD kurang oleh perusahaan pertambangan karena ada kata disposal berarti pembuangan. Mereka lebih suka menggunakan Submarine Tailing Placement (STP), karena terdapat kata Placement berarti penempatan. STP bermakna seakan-akan perusahaan tidak membuang tailing ke laut akan tetapi menempatkannya di laut. Selain istilah STD dan STP masih terdapat istilah lain, yaitu DSTP (Deep Sea Tailings Placement) atau penempatan tailing di Iaut dalam. Istilah itu pun dipopulerkan oleh perusahaan pertambang. Terlepas dari politik penggunaan bahasa, ketiga istilah tersebut pada prinsipnya sama, yaitu membuang tailing di laut.

Katup pengaman STD yang diyakini perusahaan pertambangan adalah lapisan termoklin (Baca Mitos versus Fakta STD). Lapisan dipandang mampu menghalangi munculnya tailing kepermukaan. Di Indonesia, STD pertama kali digunakan oleh PT. Newmont Minahasa Raya (NMR) di Minahasa, Sulawesi Utara. Kemudian diikuti oleh PT Newmont Nusa Tenggara (NNT) di Sumbawa Nusa Tenggara Barat. Saham mayoritas kedua perusahaan terseb dimiliki oleh Newmont Corporation satu sindikat tambang emas terbesar kedua di dunia, yang berkantor pusat di Denver, Ameri Serikat. Mineral utama yang di tambang NMR dan NNT adalah, emas, perak dan tembaga.

Dalam asumsi dasar, tailing yang dibuang ke laut berbentuk lumpur kental yang mengandung 45-45% padatan. Berat jenis kurang lebih 1,336 kg/m. Berat jenis ini lebih besar dari densitas air laut, yaitu kurang lebih 1,028 kg/m3. Oleh karenanya tailing akan mengalir sepanjang dasar laut. Semakin lama kecepatannya semakin berkurang. Akhirnya padatan tailing akan mengendap di dasar laut sebagai sedimen. Pergerakan tailing akan stabil karena ditahan oleh lapisan termoklin.

Untuk mendukung pembuangan tailing ke laut, perusahaan membangun tangki pengumpul tailing, pompa lumpur sentrifugal, Jalur pipa baja di las di darat, fasilitas stasiun katup pembuangan limbah (choke stasiun), instrumentasi dan utilitas di tepi pantai.

Pipa pembuangan limbah terbuat dari HDPE dan diberi cincin-cincin pemberat yang terbuat dari baja.
Mulanya, tailing akan melalui proses dekstruksi sianida dan detoksifikasi di pabrik pengolahan. Hasilnya tailing menjadi lumpur kental. Lumpur ini bisa memiliki suhu antara 40°C sampai 50°C Dalam padatan tailing terdapat partikel-partikel yang sangat halus. Lebih dari 93% partikel tersebut berukuran lebih halus dari 74 mikron. Selanjutnya tailing ditampung pada tangki pengumpul. Dengan bantuan pompa sentrifugal tailing dialirkan melalui pipa menuju bawah laut. Stasiun pengatur yang terletak di tepi pantai bertugas mengatur aliran menurut berbagai laju produksi dan berat jenis lumpur (slurry) .

Secara teoritik asumsi dan teknologi yang digunakan bisa saja benar. Tapi yang terjadi di lokasi NMR dan NNT menunjukkan tingkat ketepatan asumsi dan teknologi diragukan. Beberapa kali pipa tailing kedua perusahaan itu pecah. Apalagi termoklin yang diagungkan ternyata digugat banyak pihak. Faktor turbulance dan upwelling yang mampu menyebarkan tailing semakin menguatkan keraguan bahwa STD tidak seaman yang didengungkan perusahaan penggunanya.

4. Bahaya Sianida Dan Merkuri

Sianida sudah lama dikenal sebagai racun. Dalam konsentrasi alami sianida dibutuhkan tubuh kita untuk ikut serta membentuk Vita¬min B12. Konsentrasi di luar itu akan mengganggu fungsi otak, jantung dan menghambat jaringan pernapasan. Orang merasa seperti tercekik dan sampai mengalami kematian. Keracunan kronis menimbulkan malaise, dan iritasi. Sianida secara besar-besaran digunakan oleh industri pertambangan untuk membantu pemisahan unsur metal murni dengan yang tidak murni dari bebatuan. Kasus yang berhubungan dengan Sianida pada industri pertambangan terjadi dibanyak tempat, diantaranya Amerika Serikat dan Spanyol. Contoh kasus : South Dakota, Amerika Serikat: 29 Mei, 1986, 6 – 7 ton tailing yang berisi sianida (cyanide-laced tailings) tumpah dari Homestake Mine ke dalam White Wood Creek di Black Hills (Dakota Utara), menyebabkan terbunuhnya ikan ikan. Kemungkinan membutuhkan bertahun-tahun untuk memulihkan sungai-sungai tersebut ke keadaan semula.

Merkuri telah digunakan untuk menambang emas selama berabad-abad karena racun tersebut murah, mudah digunakan dan relatif efisien. Namun dampak yang ditimbulkannya juga dirasakan sampai berabad kemudian. Merkuri menjadi suatu toksin yang bersifat dapat merusak bayi-bayi dalam kandungan, sistem saraf pusat manusia, organ-organ reproduksi dan sistem kekebalan tubuh. Insiden besar yang diakibatkan pencemaran merkuri terjadi di Minamata, Jepang; diperkirakan 1.800 orang meninggal dunia karena memakan hasil laut perairan lokal yang tercemar merkuri.

Sejarah dan Pelopor STD

Pertambangan Cooper Island di pulau Vancouver, Kanada adalah saksi tonggak sejarah penggunaan SDT pertama di dunia (baca box”Belajar dari Cooper Island”). Pembuangan tailing ke laut pertama kali di dunia dilakukan tahun 1971. Dari situ sejarah STD dimulai. Banyak orang bingung ketika Kanada sebagai negara yang terkenal ketat dengan lingkungan hidup mengizinkan STD. Mungkin Kanada tidak mengira kalau regulasi mereka tentang izin pembuangan tailing ke laut menjadi inspirasi negara-negara lain. Bahkan kalangan pendukung STD menggunakan predikat Kanada sebagai negara peduli lingkungan hidup untuk mempromosikan STD.

STD di Kanada sesungguhnya merupakan kecelakaan sejarah. Awal pertambangan Cooper Island beroperasi, Kanada belum memiliki peraturan ketat yang merujuk pada ketentuan pasal 35 dan 36 Undang-Undang Perikanan (Fisheries Act). Pasal 35 UU itu mengatur larangan perusakan habitat ikan. Sedangkan pasal 36 mengatur tentang larang. penggunaan zat-zat yang membahayakan ke perairan yang banyak dihuni oleh ikan. Tahun 1977 keluar peraturan pelaksana UU Perikanan yang khusus mengatur tentang cairan hasil penambangan logam. Peraturan itu bernama the Metal Mining Liquit Effluent Regulation (MMLERs). Dalam ketentuan MMLERs, batasan rata-rata konsentrasi padatan yang boleh dibuang tidak boleh lebih dari 25 mg/liter. Ketentuan itu dengan sendirinya tidak membuka peluang bagi pembuangan tailing ke laut.

Dengan keluarnya MMLERs, perusahaan tambang yang ingin membuang tailing ke laut diharuskan meminta pengecualian khusus dan unik dari ketentuan MMLERs. Untuk mengizinkan permohonan itu pemerintah Kanada menetapkan peraturan khusus yang diseto Alice Arm Tailings Deposit Regulation . Pengecualian seperti itu pernah diberikan pemerintah Kanada pada Tambang Kitsault (Kitsault Mine) tahun 1981. Perusahaan itu hanya beroperasi satu tahun dan akhirnya tutup. Dampak dari regulasi khusus tersebut menimbulkan kontroversi berkepanjangan ditingkat nasional. Kalangan senat dan parlemen Kanada tak henti-hentinnya mempersoalkan kebijakan itu. Selama 20 tahun sejak regulasi pengecualian di terbitkan, tidak ada lagi perusahaan pertambangan yang diijinkan untuk membuang tailing di laut. Banyak yang mengajukan permohonan untuk mendapatkan ketentuan pengecualian tersebut, namun tidak ada yang diloloskan. Kini MMLERs sedang dikaji ulang, dan hampir dapat dipastikan kebijakan baru akan menyatakan dengantegas STD dilarang di Kanada.

Ironis, ketatnya pengaturan tentang STD di Kanada tidak pernah jadi pertimbangan kalangan pertambangan untuk mengurungkan niat menggunakan teknologi itu. Dalam berbagai publikasi yang di tonjolkan adalah sejarah penggunaan STD dalam pertambangan Coo¬per Island. Sedangkan regulasi yang melarangnya tidak pernah dikedepankan.

Melanjutkan ‘kesalahan’ pemerintah Kanada, tahun 1989, pemerintah Papua New Guinea mengizinkan perusahaan tambang emas Misima membuang tailing ke laut. Perusahaan milik Placer Dome dan MIM Australia itu tercatat sebagai perusahaan tambang pertama yang membuang tailing ke laut pacific.
Dua perusahaan tembaga di Phillipina segera mengikuti jejak Misima. Inilah awal keterlibatan Dames & Moore sebagai perusahaan konsultan pertambangan dalam mempopulerkan penggunaan STD. Melalui riset perbandingan tiga cara pembuangan tailing (darat, sungai dan laut) yang didanai UNEP dan USAID Dames & Moore mulai membantu banyak perusahaan pertambangan menggunakan STD.

Di Indonesia, STD dipopulerkan oleh Newmont Coorporation lewat anak perusahaannya Newmont Minahasa Raya dan Newmont Nusa Tenggara. Kini ada beberapa perusahaan mulai mengincar penerapan STD dalam rencana penambangan mereka. Konsultan lingkungan hidup untuk pertambangan mengambil peran yang cukup berarti bagi lolosnya STD. Bahkan pelopor STD telah ‘berhasil’ merekrut akademisi untuk menjadi barisan pembela STD. Sungguh suatu pendekatan yang harus di koreksi

6. Belajar Dari Cooper Island

Pertambangan Cooper Island di Pulau Vancouver, Kanada adalah perusahaan pengguna STD pertama di dunia. Perusahaan itu mulai membuang tailing ke laut tahun 1971. Selama 24 tahun teluk Rupert (Rupert inlet) ‘menerima’ 400 juta ton buangan limbah Cooper Island. Tail¬ing dibuang pada kedalaman 50 meter di bawah permukaan teluk. Studi ilmiah menunjukkan bahwa tailings yang dibuang tidak bereaksi seperti yang diperkirakan oleh ilmuwan konsultan. Tailings ternyata menyebar ke area yang lebih luas (ke daerah yang lebih dangkal dan produktif secara biologis), mendapatkan lebih banyak masalah dari yang diperkirakan (mengusir species ikan yang berpindah-pindah), mendapatkan kerusakan yang permanen didasar laut (memusnahkan species asli, menghilangkan organisme langka dan mengurangi keanekaragaman ragam hidup). Dalam kasus Cooper Island, penelitian juga menunjukkan peningkatan keberadaan dan akumulisi logam pada mahluk hidup dan karang setempat. Bahkan kenyataannya sekitar 1 juta tail¬ing’bergeser’ ke teluk tetangga sebelahnya, Quatsino Sound. Setelah beroperasi selama 24 tahun (sejak 1971 – 1995) perusahaan ini ditutup. Diketahui kemudian bahwa sistem ini sangat tidak ramah lingkungan terutama dilokasi pembuangannya yaitu lingkungan dasar laut. Enam tahun setelah tambang berjalan, perusahaan melakukan ‘mobilisasi’ ilmuwan dan konsultan untuk melakukan penelitian yang merekam dampak STD pada daerah sekitar pertambangan. Dua tahun setelah Cooper Island ditutup, mereka mengumumkan hasil penelitian tersebut. Disebut per Island telah ‘membuktikan’ keunggulan teknologi STD, dan merekomendasikan sistem ini bisa digunakan di tempat lain. Rekomendasi itu jadi rujukan perusahaan dan pemerintah untuk mempromosikan STD.
Penelitian lainnya, tahun 1996, tak lama setelah tutupnya Cooper Island menunjukkan bukti yang berbeda. Penelitian itu dilakukan oleh perusahaan konsultan bernama Colder Placer. Penelitian itu diminta oleh Enviro Canada (Lembaga Pemerintah Kanada yang membidangi Urusan Lingkungan). Golder Associates mempelajari data penelitian-penelitian sebelumnya. Mereka mengungkapkan banyak kesalahan dalam metodologi, prosedur pemantauan dan pengambilan sampel, selain kegagalan-kegagalan untuk mengantisipasi arus laut dalam dari pihak sebelumnya. Tahun-tahun berikutnya pemantauan terus menerus dilakukan Enviro Canada terhadap dampak tailing. Tahun 1999 Enviro Canada sampai pada kesimpulan bahwa meskipun reklamasi pada pertambangan, arus pasang surut yang kuat terus meremobilisasi tailing halus pada bagian-bagian dasar laut di teluk Rupert, yang mengindikasikan bahwa posisi tailing sama sekali jauh dari. biota telah “pulih” (Golder lebih suka menggunakan istilah ini daripada “rekolonisasi”),jenis-jenis biota yang dulunya menghuni teluk Rupert telah punah.i Digantikan jenis baru dengan keragaman yang rendah.

7. Laut Tidak Untuk Tailing

Indonesia tersusun dari 17.058 pulau besar dan kecil, yang membentang lima ribu kilo meter di khatulistiwa. Kawasan ini merupakan kawasan tektonis paling aktif dengan susunan geologis paling kompleks di dunia. Posisi geografis Indonesia menjadikan sebagai kawasan memiliki keragaman hayati sangat tinggi termasuk keragaman ekosistem bahari. Sedikitnya terdapat 243 lokasi terumbu karang tersebar di kepulauan Indonesia. Susunan itu terdiri dari 14.000 unit, dengan total area sekitar 85.700 km, atau 14% dari jumlah terumbu karang dunia. Salah satu kawasan yang memiliki terumbu karang dengan tinggkat keragaman hayati tertinggi di dunia adalah kawasan timur Indonesia. Di wilayah itu terdapat sekitar 80 keluarga terumbu dan 450 jenis karang. Keragaman tertinggi ini terdapat di pesisir Sulawesi dan Laut Banda Dimana satu terumbu memiliki lebih dari 40 jenis karang. Selain keragaman karang, laut Indonesia juga menyimpan paling tidak 20% jenis ikan yang ada di dunia. Jenis ikan-ikan itu tersebar pada ekosisten perairan dangkal dan perairan dalam (bentic) . Selain memiliki keragaman hayati tinggi, perairan laut di Indonesia memiliki dinamika perairan yang cukup kompleks. Sebagai negara kepulauan yang diapit oleh benua Asia dan Australia, perairan laut Indonesia memiliki sifat fisik, kimia dan biologi yang juga kompleks. Kompleksitas itu ditopang oleh pengaruh angin musim yang terus terjadi. Selain itu, tekanan udara Khatulistiwa juga berpengaruh pada dinamika perairan laut Indonesia.
Para nelayan paham betul dinamika laut kita. Musim barat dan musim timur adalah dua patokan musim yang sering mereka gunakan ketika melaut. Dalam konteks STD dinamika perairan laut sanga menentukan terjadinya peyimpangan asumsi aman yang dipercaya perusahaan pengguna STD. Apalagi dinamika perairan laut kita mengenal peristiwa upwelling dan turbulence. Telah jadi pengetahuan umum, bahwa perairan tropis seperti Indonesia memungkinkan sering terjadinya proses upwelling. Yaitu suatu peristiwa naiknya masa air yang ada di dasar laut ke permukaan, karena adanya perbedaan tekanan. Selain upwelling dinamika laut tropis yang terjadi di Indonesia adalah turbulence, yaitu terjadinya pusaran air yang sangat kuat, dan dapat menggerakkan benda apapun yang tersimpan di bawah laut ke permukaan.
Keunikan laut Indonesia semakin khas karena wilayah pesisirnya dihuni oleh sekitar 60% penduduk Indonesia. Sebagian besar dari mereka adalah nelayan. Laut memiliki fungsi dan arti penting bag! kehidupan mereka. Dari laut mereka bisa makan. Bagi mereka laut tidak saja memiliki fungsi ekonomis, tapi juga sosial budaya. Patutkah laut Indonesia dijadikan penampung limbah beracun seperti tailing? Tak perlu waktu merenung untuk mengatakan tidak .

8. Semua Tingkat Kedalaman Laut Memiliki Kehidupan

Ekosistem laut memiliki tingkat keragaman hayati yang tinggi. Tidak heran jika makhluk berkembang biak dengan sumber makanan, mineral dan sinar matahari, semakin mendukung kehidupan laut di dalamnya. Di semua tingkat kedalaman laut memiliki kehidupan. Mulai dari dangkalan sampai palung (jurang) laut dengan kedalaman 10 meter dapat ditemukan kehidupan. Mahkluk hidup dilaut biasa digolongkan dalam 3 bagian yaitu plankton, nekton dan bentos. Plankton (pengembara, bahasa Yunani) terapung atau melayang di air yang kemungkinannya menangkap sinar matahari lebih banyak untuk melakukan fotosintesis. Golongan ini memiliki fungsi yang sangat penting sebagai produsen bagi ekosistem laut. Nekton (berenang, bahasa Yunani), dapat bergerak secara aktif hingga terdapat dimana-mana, terdiri dari beragam jenis ikan yang bisa ditemui sampai daerah laut dalam. Di daerah ini kehidupan yang ditemui semakin berbeda dengan lapisan air di atasnya. Jenis-jenis yang dijumpai telah mampu mengembangkan diri sesuai dengan kondisi perairan dalam yang gelap dan tekanan air sangat besar. Mereka melengkapi dirinya dengan gigi tajam, mata sangat kecil ataupun memancarkan cahaya dari bagian tubuhnya untuk sedikit menerangi sekitarnya . Bentos merupakan golongan yang hidup terkait dengan dasar laut. Jenis ini hidup dari bahan organik dari kehidupan di lingkungan atasnya yang berupa bahan buangan dan sisa bangkai yang mengendap di dasar laut. Ada yang merangkak, melata dan terikat lebih nyata dengan dasar laut. Beberapa diantaranya hidup sebagai preda¬tor. Ikan Coelocanth (Latimeria Menadoensis) adalah salah satu yang mewakili kehidupan laut dalam. Ikan dengan panjang 2 meter atau lebih ini mulanya sudah dianggap punah. Sebagai ikan perairan dalam, Coelocanth tak dapat bertahan lama tinggal di perairan atas. Beberapa waktu lalu ikan jenis ini ditemukan di Sulawesi Utara. Dengan demikian thesis yang menyatakan jenis ini telah punah jadi terbantahkan. Kemunculan Ikan Coelocanth dapat jadi bukti bahwa perairan laut dalam menyimpan keragaman hayati yang belum banyak diketahui sampai saat ini .
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa daerah laut dalam memiliki keragaman cetaceans (ikan paus dan lumba-lumba) yang cukup tinggi. Kebanyakan spe¬cies ini, mengkonsumsi cumi-cumi dan sangat peka terhadap bahan-bahan kimia (Simonds & Hutchinson, 1996 dalam Kahn, 1999). Dalam ekosistem perairan terjadi proses makan-memakan (rantai makanan) seperti yang terjadi di darat. Coelot memangsa ’sesuatu’ yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya. Mangsanya tentu makan sesuatu yang lain lagi, demikian seterusnya sampai pada tataran yang paling bawah, sang produsen.
Produsen ini bernama plankton (baik zooplankton ataupun phytoplankton) dan Ganggang. Hidup pada bagian atas perairan, dimana sinar matahari menembusnya. Sebagai produsen mereka akan menyerap bahan-bahan lain yang lebih kecil, unsur atau senyawa kimia. Produsen ini berpotensi untuk mendapat cemaran atau mati karena tidak tahan cemaran. Bila produsen menyerap cemaran, tentu akan diteruskan ketingkat pemangsa begitu seterusnya sampai kepada manusia sebagai pemangsa utama (top predator). Bila sang produsen tidak tahan semaran dan mati, maka pemangsanya akan ikutan mati karena tidak ada makanan pengganti. Itulah yang disebut jaringan makanan di laut (meso and bathypelagic food web).
Jaringan makanan tersebut akan semakin kompleks bila ternyata kawasan perairan tersebut menjadi tempat singgah dari jalur migrasi satwa tertentu. Seperti perairan laut Sumbawa yang menjadi tempat singgah ikan paus untuk melakukan perkawinan. Bahkan sudah sejak lama sebagian besar perairan Indonesia menjadi bagian dari jalur migrasi lima dari enam jenis penyu yang ada didunia.

Dampak – Dampak STD

Dampak utama STD yang berpengaruh negatif pada linigkungan hidup terdiri dari : rusaknya bentang dasar laut dan ekosistemnya, ancaman terhadap perikanan, struktural masyarakat nelayan; mengancam keselamatan hidup, degradasi habitat dan ekosistem laut, dan dampak sosial lain, seperti terbukanya konflik horisontal, trauma sosial, serta penggunaan kekuasaan untuk menekan masyarakat yang menolak STD. Dampak-dampak itu dikelompokkan dalam lima kelompok utama, sebagai berikut :

Pertama, rusaknya bentang dasar laut dan ekosistemnya. Bentang dasar laut dan ekosistemnya merupakan bagian paling rawan terpengaruh pembuangan tailing melalui sistem STD. Secara normal, ketika tailing keluar dari mulut pipa pembuangan, mengakibatkan kondisi air di sekitarnya jadi keruh. Tingkat kekeruhan air laut menghambat penetrasi cahaya matahari. Kondisi ini akan megganggu terjadinya proses fotosintesis didaerah perairan. Padahal proses tersebut ikut mengatur keseimbangan senyawa kimia dan mineral lainnya, seperti kandungan oksigen pada air laut. Akibat selanjutnya adalah keseimbangan kimia dan biologi perairan jadi terganggu. Selain itu tailing yang mengendap di dasar laut, menutup permukaan bentang dasar laut. Rantai makanan jadi terputus karenanya. Tailing didasar laut juga member! dampak buruk bagi benthos dan biota dasar laut lainnya. Bagi biota yang bisa migrasi, segera mengungsi ketika tailing datang menggangu habitatnya. Namun sebagian besar habitat dasar laut akan matimassal saat tailing datang menutupi. Dengan demikian dapat dipastikan, secara teoritik pun faktanya, STD secara sistematis merusak bentang dasar laut beserta ekosistemnya .
Kedua, STD merusak bentang dasar laut. Salah satu bukti bahwa STD merusak bentang dasar laut tersirat dalam kajian yang dilakukan oleh Pusat Penelitian Lingkungan Hidup dan Sumberdaya Alam (PPLH) Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT). Hasil kajian Kelayakan Pembuangan Limbah Tail¬ing ke Laut di Perairan Teluk Buyat yang dilakukan lembaga itu menemukan perubahan bentuk Bhatimetry (bentang lahan) perairan Teluk Buyat.
Sebagaimana diketahui Teluk Buyat merupakan lokasi pembuangan limbah tailing Newmont Minahasa Raya, Hasil pengukuran menemukan limbah tailing setebal 10 meter pada kedalaman 80 – 90 meter (sekitar mulut pipa buangan) yang tersebar (deposisi) memenuhi semua tempat di dasar laut mulai kedalaman >60 meter.
Hasil penelitian itu juga menyebutkan bahwa akibat kondisi perairan yang demikian memberi dampak pada usaha perikanan masyarakat setempat. Khususnya terhadap kualitas hasil tangkapan mereka.
Ketiga, ancaman terhadap perikanan. Dampak lain dari STD adalah turunnya hasil usaha perikanan. Nelayan Tradisional di sekitar lokasi pembuangan limbah taling menderita akibat STD. Wilayah tangkapan mereka menjadi berubah (lebih jauh dari sebelumnya), dan produktifitas tangkapan pun jadi menurun, karena rusaknya ekosistem laut. Penderitaan semakin bertambah karena sensrtifitas pasar. Hasil tangkapan ikan yang didapat dengan susah payah tidak laku di pasaran. Petaka yang melanda nelayan tradisional berdampak luas bagi sistem perdagangan lokal. Penampung dan pengecer ikan juga menerima imbas. Menurunnya pendapatan nelayan berdampak pada turunnya kemampuan daya beli mereka. Para penyecia barang dan jasa di bidang perikanan juga ikut terpengaruh. Akibatnya tata perekonomian lokal jadi terganggu. Dari sinilah proses pemiskinan struktural terjadi. Selain nelayan tradisional, pencari dan pedagang ikan komersial pun ikut menderita karena STD. Perdagangan yang berorientasi eksport tentu akan lebih keras menghadapi sensitifitas pasar. Hasil tangkapan ikan dari perairan yang diduga tercemar limbah tidak akan laku di pasaran. Lebih keras dari itu, ancaman boikot bisa setiap saat diberikan untuk seluruh produksi dari perairan laut yang bersentuhan dengan lokasi pembuangan limbah.
Keempat, mengancam keselamatan hidup. Limbah tailing yang dibuang ke darat, sungai atau laut, selalu mengandung logam berat seperti Merkuri (Hg), Arsenik (As) Cyanida (Cn) dan Kadmium (Cd). Di Indonesia logam berat dikenal sebagai material Bahan Berbahaya Beracun (83). Secara teoritis tailing yang dibuang dan masuk ke laut telah melalui proses penghilangan racun yang dikenal dengan istilah proses detoksifikas. 1.5 STD Ancaman Bagi Sumber Perikanan Teluk Buyat.
Ketika perusahaan Kimia Chisso membuang limbahnya ke teluk Minamata tahun 1939, banyak pihak yakin kalau limbah perusahaan itu tidak berbahaya. Limbah yang mengandung Merkuri, Selenium, Tahlium, Manganese dan sebagainya dibuang ke laut. Tahun 1959 ditemukan bahwa metil merkuri dalam air limbah adalah penyebab penyakit Minamata. Tetapi perusahaan menolak tuduhan itu dan terus membuang limbah hingga tahun 1968. Akibatnya, penduduk yang mengkonsumsi hasil laut teluk Minamata terserang penyakit “aneh” yang belum ada sebelumnya. Orang yang terserang penyakit mengalami gejala gangguan indera, kesemutan atau tangan dan kaki gemetar, hilang keseimbangan dan lain-lain. Juga menimbulkan penyakit lain seperti diabetes, akibat tidak berfungsinya kelenjar ludah perut.
Saat masyarakat protes, “pasukan” pembela Chisso telah siap menghadapi. Para pejabat pemerintah, akademisi, politisi dan bahkan dokter memberikan berbagai alasan dan penjelasan yang menyatakan bahwa penyakit itu bukan karena limbah Chisso. Masyarakat yang tidak kena penyakit juga ikut membela Chisso. Para pembela Chisso mengeluarkan berbagai teori, analisis dan data, yang pada intinya untuk membela perusahaan. Lebih dari itu, mereka menuduh masyarakat ingin mencari keuntungan dari perusahaan dengan alasan kesehatan. Dampak dari pembelaan itu adalah sekitar 1.800 orang menjadi korban. Banyak dari mereka meninggal karena keracunan tubuh itu.
Setelah korban makin berjatuhan dan Chisso terbukti mencemari, barulah para pendukung Chisso sibuk menyembunyikan muka. Tanpa rasa bersalah mereka masih saja hidup di tengah masyarakat yang memiliki tradisi harakiri (bunuh diri karena malu). Haruskah peristiwa memalukan itu menimpa pejabat, akademisi, politisi, dan dokter di Indonesia? Hanya sejarah yang dapat membuktikan.
Kelima, degradasi habitat di ekosistem laut. STD berpengaruh pada ekosistem perairan dalam dan dasar laut, salah satu ekosistem di dunia yang paling tidak dikenal, yaitu laut tropis dalam. STD juga berdampak langsung pada mahkluk hidup laut dalam yang besar, spektakuler, dan rapuh (fragile) seperti paus lumba-lumba, coelacanths, hiu laut dalam, penyu berpunggung kulit dan bill fish.

Dampak Lain STD

STD juga memberi dampak negatif bagi kehidupan sosial di masyarakat. Protes dan reaksi penolakan STD oleh nelayan dapat mengundang konflik terbuka dengan penduduk lokal yang bekerja atau menjadi kontraktor di perusahaan. Propaganda-propaganda yang menyudutkan penolak STD terus dilakukan sistematis oleh perusahaan, pemerintah, sekongkolnya semakin menempatkan masyarakat pada posisi dilematis. Bagi masyarakat yang mengalami atau mengetahui dampak buruk sistem itu dapat menjadi mesin teror, sehingga menggangu ketentraman hidup. Putus asa, pesimis dalam hidup adalah dampak lain STD bagi masyarakat karena tidak mampu melawan kekuatan industri tambang yang didukung oleh pemerintah dan pilar lain seperti akademisi, politisi dan kalangan medis yang seharusnya jadi pembela masyarakat. Kawasan laut yang memiliki potensi tujuan wisata, STD menjadi hambatan utama karena merusak keindahan laut .

Mitos Versus Fakta Dalam STD

Faktanya termoklin Bukan Pelindung. Mitos tentang termoklin dapat mencegah tailing naik ke permukaan harus dikoreksi. Fakta menunjukkan bahwa tailing dapat menembus lapisan termoklin, khususnya jika terjadi peristiwa up welling turbulence. Up weling terjadi di sekitar pantai dan meliputi daerah yang luas. Bila hal ini terjadi dipastikan akan mengangkat limbah tailing ke permukaan dan menyebar. Satelit NOAA telah merekam beberapa kali terjadinya up welling di sekitar teluk Buyat (disekitar perairan Maluku) selama tahun 2000. Penyebaran limbah tailing at up welling ini telah menutupi dan merusak ekosistem terumbu karang, dan menimbun kehidupan dasar laut. Pemerintah Amerika dan Kanada melarang praktek STD salah satu didasarkan pada pertimbangan peristiwa up welling. Padahal dibanding Indonesia dan perairan tropis lainnya, perairan sub tropis (dengan 4 iklim) jarang mengalami peris up welling.
Selain itu, termoklin bukan ‘tembok’ ekstrem yang bisa menahan naiknya tailing ke permukaan. Tingkat ketebalan lapisan termoklin fluktuasi kedalaman yang bisa selalu berubah, memungkinkan tailing naik ke permukaan. Apa lagi lautan tropis seperti Indonesia, dinamika termoklin tergolong cukup tinggi.
Kedalaman lapisan termoklin ternyata labil karena ada fluktiasi yang menyesuaikan pada musim (kemarau, penghujan dam peralihan). Sering ditemukan dalam rentang waktu 6 bulan saja titik kedalaman termoklin dapat berubah. Kedalamannya bisa berubah naik atau turun sampai beberapa puluh meter. Lapisan termoklin pada perairan tropis memang selalu terbentuk dengan kedalaman yang bervariasi menurut musim. Pada umumnya lapisan termoklin berada pada kedalaman 200-300 meter. Oleh karena pandangan yang mengatakan termoklin dapat dijumpai pada kedalaman 50-100 meter juga perlu dikoreksi. Pada kedalarr tersebut pada umumnya termoklin hanya bersifat sementara.
Pendokumentasian bawah laut yang dilakukan Walhi Sulut di teluk Buyat, makin menguatkan bahwa termoklin tidak efektif mencegah tailing naik ke permukaan. Mulai kedalaman 10 meter meriyusuri jaringan pipa pembuangan, ditemukan sebaran tailing. Ternyata tailing telah terdeposisi di hampir semua tempat di teluk Buyat. Rekaman gambar menampilkan tingkat kerusakan yang sangat parah mulai pada hamparan lamun (sea grass) hingga kawasan terumbu karang (coral reef). Seluruh kawasan tersebut telah tertutup oleh Lumpur yang keluar dari anus pipa. Tim yang semula akan melakukan dokumentasi hingga ke anus pipa, terpaksa berhenti pada kedalaman 30 meter akibat pandangan terhalang pekatnya perairan yang tersuspensi oleh partikel halus limbah dan cairan padat seperti benang halus hingga yang menyerupai “lendir”‘.
Termoklin yang katanya tidak dapat ditembus makhluk laut. merupakan kebohongan. Gurita, cumi-cumi dan binatang sejenis (chepalopoda) tidak melihat termoklin sebagai halangan untuk pergerakan mereka. Dengan pergerakan vertikal dan horisontalnya sampai ke dasar perairan, cumi-cumi bisa mengarungi jarak lebih panjang dari Gurita. Dalam 3 hari, Gurita hanya mampu mengarungi jarak 21 km. Hewan benthic ini merupakan predator tingkat tinggi yang bisa mengakumulasi bahan beracun melalui mangsa mereka yang lebih kecil, seperti Crustacea (udang-udang), moluska dan ikan. Akumulasi logam berat ini memungkinkan mereka bertindak bertindak sebagai penyalur (vektor biologis) bagi naiknya bahan cemaran ke permukaan dan daerah pantai.
Bahwasanya tailing tidak berbahaya dan tidak beracun. Dimana perusahaan pertambangan sering mengatakan bahwa tailing beracun dan tersimpan aman di dasar laut. Mitos ini masih ditambah dengan penjelasan bahwa proses detoksifikasi dilakukan perusahaan sebelum membuang tailing, akan berhasil menghilangkan logam berat, termasuk Cyanida, Merkuri lainnya dalam tailing. Demikian pula Tailing Berbahaya mitos bahwa tailing tidak berbahaya dan tidak beracun adalah suatu penyesatan informasi. Dalam kenyataannya, tailing dibuang ke laut sangat berbahaya tidak saja bagi ekosistem laut, tap! juga makhkik hidup lain yang dalam rantai makanan terkait dengan ekosistem laut. Ekosistem laut sangat peka terhadap introduksi material dari luar dalam jumlah banyak seperti tailing.
Sifat tailing yang mengandung kadar keasaman tinggi menjadi ancaman serius bag! ekosistem laut. Belum lagi tailing dapat menyebar dan menutupi bentang laut karena jumlah buangannya sangat banyak. STD juga menimbulkan gangguan serius jaring-jaring makanan yang stabil dan kompleks, menjadi jaring-jaring makanan yang tidak stabil dan miskin keragamannya. Tidak bisa dipungkiri tailing yang dibuang ke laut mengikutkan logam-logam berat yang masuk dalam kategori limbah Bahan Berbahaya Beracun (B3) dalam berbagai kadarnya. Proses detoksifikasi tidak 100% terserap oleh penambahan Natrium Sulfida dan Ferri Sulfat yang sering digunakan dalam proses itu. Artinya, kadar racun yang tersimpan dalam tailing tidak hilang oleh proses detoksifikasi. Loqam berat yang tidak terserap selama detoksifikasi akan menumpuk di dasar laut. Dan bisa jadi pada saat tertentu akan terurai dan larut ke dalam air laut .
Pembuangan tailing di teluk Buyat misalnya. Fakta menunjukkan buangan Tailing dari PT. NMR, menurut hasil penelitian Pusat Studi Lingkungan dan Sumberdaya Alam Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) Manado, mengandung B3. Tabel berikut menunjukan konsentrasi Arsen (As) dalam Sedimen di Teluk Buyat.

Bahaya Arsen Dan Kadmium

Arsen (As) adalah suatu zat kimia yang dapat merusak ginjal jika keracunan kuat sekali. Senyawa sulit dideteksi karena tidak memiliki rasa yang khas/menonjol, gejala keracunan senyawa ini adalah sakit di kerongkongan sukar menelan, menyusul rasa nyeri lambung dan muntah-muntah. Kadmium (Cd) adalah salah satu logam berat dengan penyebaran yang sangat luas di alam. di dalam. Cd bersenyawa dengan Belerang (S) sebagai greennocckite (CdS) yang ditemui bersamaan dengan senyawa spalerite (ZnS). Cadmium merupakan logam lunak (ductile) berwarna putih perak dan mudah teroksidasi oleh udara bebas dan gas Amcnia (NH3). Logam Kadmium atau Cd juga akan mengalami proses biotransformasi dan bioakumulasi dalam organisme hidup (tumbuhan, hewan dan manusia). Dalam biota perairan jumlah logam yang terakumulasi akan terus mengalami peningkatan (biomagnifikasi) dan dalam rantai makanan biota yang tertinggi mengalami akumulasi Cd yang banyak. Keracunan kadmium, menimbulkan rasa sakit, panas pada bagian dada, penyakit paru-paru akut dan menimbulkan kematian.

STD Di Iindonesia

Pembuangan tailing ke laut cenderung jadi pilihan perusahaan pertambangan di masa mendatang. Ada dua perusahaan penambangan emas yang telah diijinkan oleh pemerintah Indonesia untuk membuang limbahnya ke laut. Kedua perusahaan tersebut adalah PT Newmont Minahasa Raya di Sulawesi Utara dan PT Newmont Nusa Tenggara di Sumbawa. Perusahaan lainnya akan segera menyusul. Sebagian besar akan dilakukan pada beberapa pulau kecil, seperti kepulauan Maluku, Pulau Sulawesi, dan pulau Gag. PT Meares Soputan Mining di Sulawesi Utara, BHP di Pulau Gag, Weda Bay Nickel di Halmahera dan Ingold di Maluku diduga akan menggunakan STD sebagai cara pembuangan tailing.

2 thoughts on “BELUM ADA TEKNOLOGI TAMBANG EMAS YG AMAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s