Kalau orientasi uang saja, kenapa NTT tidak tanam Koka?


Penggalan artikel dari Ledalero (pos kupang 4-12-2010)

Penebangan hutan di wilayah hutan lindung dilarang, karena hal ini merupakan satu tindakan yang menghancurkan ekosistem dan berpengaruh negatif secara meluas. Penebangan hutan hanya diperbolehkan di wilayah tertentu dalam jumlah tertentu. Kebutuhan akan kayu mesti dipenuhi, namun penebangan hutan mesti diatur. Di wilayah yang hanya memiliki hutan dalam jumlah yang sangat kecil dan persediaan air yang sangat terbatas, penebangan hutan harus sangat dibatasi malah dilarang secara total. Sebaliknya, di wilayah yang luas penebangan hutan dapat diatur, serentak ditetapkan dan diperhatikan mekanisme rehabilitasinya. Sebab itu, satu pemerintahan yang menjadikan anggur merah sebagai spirit pembangunan, mesti memperhatikan pengelolaan hutan demi kesejahteraan warga.

Contoh lain yang dapat disebutkan adalah penananam koka. Transaksi internasional menunjukkan bahwa tanaman ini mendatangkan keuntungan finansial yang sangat besar. Kendati demikian, karena pengaruh yang ditimbulkannya bagi manusia sangat buruk, maka perkebunan tersebut dilarang dan hanya dibatasi untuk sejumlah kebutuhan yang sangat khusus. Contoh ini menunjukkan bahwa tidak semua hal dan usaha yang mendatangkan keuntungan material dan karena itu meningkatkan pendapatan, dapat dikelola.

Dalam rangka spirit anggur merah kita perlu juga menilai rencana kegiatan penambangan terbuka yang akhir-akhir ini semakin marak di NTT. Memang terdengar masuk akal dan menggugah rasa kalau diargumentasikan bahwa penambangan akan menambah pendapatan asli daerah dan dengan demikian tersedia lebih banyak uang demi pembangunan. Orang akan mudah diyakinkan oleh argumentasi bahwa usaha penambangan akan membantu membuka isolasi satu masyarakat terpencil. Pihak pengusaha berjanji akan membangun jalan dan jembatan menuju lokasi tambang.

Ternyata, banyak kasus tidak mendukung kebenaran pengandaian ini. Karena, ternyata banyak warga di banyak wilayah tambang tidak menjadi semakin sejahtera oleh kehadiran usaha ini. Sebaliknya, mereka harus mengalami banyak persoalan seperti kehilangan lahan pertanian, dan kemiskinan massal setelah ditinggal pergi oleh perusahaan tambang. Persentase keuntungan untuk daerah sangat kecil, dan hanya sekelompok warga beruntung dapat dipekerjakan sebagai buruh tambang. Dan prasarana yang disiapkan hanya dijamin selama dibutuhkan oleh perusahaan.

Namun, juga apabila pengandaian peningkatan sumber pendapatan daerah itu benar, hal yang menjadi persoalan adalah entahkah usaha penambangan itu mensejahterakan masyarakat. Yang dipersoalkan bukan pertama-tama hasil atau keuntungan finansial yang diperoleh, melainkan akibat yang terjadi karena proses penambangan itu sendiri. Kita mesti bertanya, apakah di tengah topografi lingkungan seperti yang kita miliki di NTT, kegiatan penambangan terbuka bukan merupakan sebuah usaha berisiko tinggi yang akan mendatangkan banyak bencana bagi alam dan masyarakat? Apakah mengada-ada, apabila diingatkan bahwa kegiatan penambangan terbuka di wilayah seperti ini akan mengurangkan secara drastis persediaan air yang dikandung bumi dan serentak mencemarkan yang masih tersisa itu? Tampaknya bukanlah satu gambaran yang sengaja dibesar-besarkan apabila disampaikan kepada warga bahaya penyakit yang datang dari limbah yang tidak terurus, yang bakal mereka derita.

Kita memang tidak menutup kemungkinan bagi teknik penambangan terbuka yang ramah lingkungan. Namun, selama pola seperti itu dibuktikan di tempat lain, kita belum boleh memperkenankan NTT menjadi wilayah eksperimentasi. Lahan di sini terlampau sempit untuk dijadikan medan latihan penuh risiko dari sebuah kegiatan penambangan terbuka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s